"Ditengah modernisasi yang begitu cepat, bagaimana warisan intelektual klasik akan terus hidup?"
Sebuah pertanyaan penting diangkat oleh seorang profesor perempuan, Prof. Dr. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A.saat mengawali sesi seminar panel pada simposium di Muscat, Oman, dalam pertemuan online hari Rabu 22 juli 2026.
Beliau menyampaikan, bahwa mempelajari sejarah peradaban Islam sangatlah penting untuk masa depan generasi yang tidak lain dibentuk dari nilai-nilai Islam.
"Man laysa lahu madhin laysa lahu Mustaqbal"
"Barang siapa tak punya sejarah
maka dia tak punya masa depan".
Dalam pertemuan online pada simposium kali ini, beliau memberikan penjelasan penting dalam pembahasannya bahwa, pentingnya mendidik sesuai Al Qur'an dan Sunnah; karena tujuan edukasi keislaman itu sendiri tidak lain untuk membangun individu yang shalih dan berpengetahuan.
Beliau juga membahas tentang tantangan yang kerap ada pada proses menuntut ilmu di era sekarang seperti, globalisasi, teknologi digital, moral degradasi , dan urangnya literasi/ Lack of literacy yang disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang menggunakan waktu dengan tepat.
Dalam sela sela penjelasan, beliau kerap menyebutkan tokoh tokoh Islam yang berhasil menjadi seorang penemu pada masanya. Sebagai pembangkit semangat dan motivasi untuk para hadirin. Beliau juga memberikan anjuran
untuk menjadi pribadi yang gemar menulis dalam berbagai bidang.
Sebuah kata-kata dikutip oleh beliau di penghujung acara yang menambah antusias para hadirin,
"Jika ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkanlah pendidikannya. Sebaliknya, jika ingin membangun dan memajukan suatu bangsa, bangunlah pendidikannya."
Ketika masyarakat memiliki pendidikan yang baik, lahirlah peradaban yang maju.
Kemajuan tersebut tidak hanya terlihat dari ilmu pengetahuan, tetapi juga dari etika, kepedulian, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama serta saling menghormati perbedaan agama dalam hidup berdampingan, yang mana ini merupakan salah satu bentuk moderasi beragama.
0 Komentar